Sang Janda Berbadan Gitar

cerita porno

“Mama! Ke sini dong!” seru Bagas.

Wanita itu menurunkan keranjang pakaiannya, lalu berjalan mendekati kami.

“Ada apa, Nak?”

“Kasih lihat tetek Mama ke temanku ini,” kata Bagas. Suaranya terdengar santai, seperti mengobrol biasa.

Aku terkejut melihat Bu Romlah yang langsung membuka kancing atas gamisnya, lalu mengeluarkan salah satu teteknya. Wajah Bu Romlah terlihat risih.

Itu adalah pertama kalinya aku melihat tetek wanita secara langsung. Tetek Bu Romlah mungkin sama ukurannya dengan tetek Mama. Pentilnya cokelat tua dan urat-urat kecil menjalar di sekitar pentilnya.

Kontolku rasanya mau meledak!

“Asik ‘kan punya ibu yang bisa disuruh-suruh begini?” kata Bagas sambil memuntir-muntir pentil ibunya.

Aku menelan ludah melihat pentil Bu Romlah yang semakin mengacung.

“Mau coba pegang? Buat pemanasan sebelum kamu coba ke ibumu sendiri,” kata Bagas. Ia mendorong ibunya supaya mendekatiku.

Pentil Bu Romlah cuma beberapa senti dari wajahku. Aku langsung melahap pentilnya. Rasanya asin dan beraroma sabun mandi.

“Wah beringas juga kau,” kata Bagas sambil tertawa.

Sambil mengenyot pentilnya, kulirik wajah Bu Romlah. Wanita itu meringis kesakitan. Mungkin aku mengenyot terlalu keras. Ngocoks.com

“Uuuhhh…” erang Bu Romlah.

Kumasukkan tanganku ke dalam kerah gamisnya. Kuremas teteknya yang masih di dalam gamis, lalu kukeluarkan. Wajahku kini dijepit kedua teteknya.

Kuturunkan kepalaku sampai ke perutnya. Meski tertutup gamis, hidungku menyentuh lekukan udelnya.

“Wah jago juga ya kamu,” kata Bagas. Anak itu sepertinya senang melihat ibunya digerayangi orang lain.

Kuraih bagian bawah gamis Bu Romlah, lalu kunaikkan sampai melewati perutnya. Rupanya Bu Romlah tidak memakai sempak. Berbeda dengan memek Mama yang ditumbuhi jembut panjang sampai ke belahan pantat, jembut Bu Romlah pendek seperti dipotong beberapa hari yang lalu.

Lidahku kini menyasar ke memek Bu Romlah. Pahanya menegang saat ujung lidahku menyentuh bibir memeknya. Memeknya beraroma keringat dan sedikit pesing. Aku jadi teringat saat aku mengendus pantat Mama kemarin.

Bibir memek Bu Romlah sedikit terbuka, mungkin karena sering dipakai Bagas. Aku curiga anak itu tidak cuma memasukkan kontol ke memek ibunya, tapi juga benda lain yang lebih besar. Bibir memek itu kubuka dengan jari, lalu bagian dalamnya kujilat. Lidahku menyentuh semacam cairan bening. Kujilat terus memeknya sambil berharap cairan itu tersapu bersih, tapi cairan itu terus mengalir dan keluar semakin banyak.

Paha Bu Romlah semakin menegang. Tiba-tiba saja cairan bening itu menghambur keluar seperti tanggul sungai bocor. Mulutku sampai belepotan dipenuhi cairan memek Bu Romlah.

“Sudah cukup,” kata Bagas. Ia menarik badan ibunya dan meninggalkan lidahku yang masih menjulur. Aku mengelap mulutku supaya bersih dari cairan memek.

“Wow!” Aku takjub dengan kegiatan barusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *